Selasa, 17 Mei 2011

puisi

Embun pagi menyambut Smua penatku
Hingga sang malam pun d d kejutkan dgn kehadiranya
Tapi masih ada tanya disini untuk smua alam dan isinya
apa yg hrs kulakukan?
Aku hanya terpatri d tengah embun dan tanyaku
Sambil menoleh mncari sbuah jawaban..
Hey kau embun,aku bertanya"mengapa kau bgtu sejuk?
dan knp tdak kau warnai saja sluruh hari dengan sejukmu?"
Embun hanya terdiam menyeka bsh pipiku,melerai smua prtanyaanku dlm kaburnya pandanganku
Ku beralih pada alam n berkata..
Hey alam,"mengapa kau brikan anugrah ini tanpa aku dpt menjabanya?"
Alam menjawabnya Dgn sinisnya malam menambah pekat pandanganku dgn gelapnya
Di sini aku rasakan keduanya,mengalir msk dlm relung jiwaku
mencoba memahami keduanya
merasakan smilir angin malam,sambil ku hirup segarnya embun pagi..
membuatnya menjadi satu sinergi kehidupan
Aku blm tau pasti mengapa...
Tapi sbentar lagi siang dtg menghapus smua embun
menghempaskan congkaknya malam dgn panasnya
dan Yang trtinggal hanya jentik2 air d rerumputan..
Slintas muncul lg prtanyaan dlm benakku....
Ya sang penguasa siang"apakah aku msh akn brtemu kduanya..??"
Ia lalu menjawabnya dgn teriknya..
AKu hanya manusia biasa d saat dtg Gelap ku inginkan Cerah
Disaat dingin kuinginkan panas..
http://www.facebook.com/note.php?note_id=129057406803

tuhan itu ada

Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".



"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.



"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan... untuk

menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.

Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,

Adakah yang sakit??,

Adakah anak terlantar??

Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.

Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan

membiarkan ini semua terjadi."



Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena

dia tidak ingin memulai adu pendapat.



Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi

meninggalkan tempat si tukang cukur.



Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada

orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.



Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu,

sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."



Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"



"Tidak!" elak si konsumen.

"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang

dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana ", si konsumen menambahkan.



"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa

mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.



"Cocok!" kata si konsumen menyetujui. "Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."



Si tukang cukur terbengong !!!

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150184068502098

karam (puisi)

dptkah putik kn mjdi bunga.
kiranya cuaca sering gerhana.
dptkh kasih bremi slamanya...
atw pun aku hrs brserah kpdNya
Yang Maha Kuasa

mestikah ada 1pngorbanan
shnga trjdinya prpisahan
kiranya itu 1prmintaaan
perlukah kau dan ku merelakan

kita hnya insan yg slalu mnghrapkn
swtu yg indah dlm prcintaan
dkala tiba dugaan mendatang
aku kau tingalkan

karam aku dlautan duka
bila wjahmu hilang dmata
tiada berita pngobat rindu
dikala sendu

ku biarkan luka dhati brdarah
shingga kering terjemur mentari
apakah salah ku
sampai kau sakiti begini

perlukah aku trus mnghrapk
ncamar yg hilang kembali k sangkar
apakah masih ada kerinduan yg ada dhatimu.....

dalam harapanku (puisi)

dalam tawa ku menyimpan duka

dalam senyum ku menangis

dalam diam ku menahan

sebuah asa yang kurasa

namun sulit untuk tercipta



lelah hati bersandiwara

menutupi semua realita

rasa cinta yang ada

membuat ku sesak dalam dada

ingin rasa ku ucap kata cinta

agar terlepas semua beban jiwa



matahari terdiam memberi kehangatan

rembulan terbisu memberi keteduhan

bintang berteguh memberi keceriaan

awan terbungkam memberi kesejukan



tiada kata yg bermakna

tiada makna yg terkandung

diam membisu menyimpan seribu asa

terkubur tiada tersisa tiada guna

STUPID GIRLS (PINK)

Stupid girl, stupid girls, stupid girls
Baby if I act like that, that guy will call me back
Porno paparazzi girl, I don’t wanna be a stupid girl
Go to fred segal, you will find them there
Laughing loud so all the little people stare
Looking for a dady to pay for the champagne (Drop a name)
What happened to the dream of a girl president
She is dancing in the video next to 50 cent
They travel in packs of two or three
With their its bitsy doggies and their teenyweeny teens
Where, oh where, have the smart people gone?
Oh where, oh where could they be?
Chorus
Baby if act like that, the guy will call me back
Porno paparazzi girl, I don’t wanna be a stupid girl
Baby if I act like that, flipping my blonde hair back
Push up my bra like that, I don’t wannna be a stupid girl
(break it down now)
Disease’s growing it’s epidemic
I’m scared that there ain’t a cure
The world believes it and I’m going crazy
I cannot take any more
I’m so glad tahat I’ll never fit in
That will never be me
Outcast and girls with ambition
That’s what I wanna see
Disasters all around
World despaired
Their only cocern
Will they fuck up my hair
Chorus
Pretty will you fuck me girl, silly as a lucky girl
Pull my head and suck it girl, silly as a lucky girl
Pull mya head and suck it girl, stupid girl, stupid girl!

Stupid girl, stupid girl, stupid girl, stupid girl, stupid girls,stupid girl…….

LAMUNAN SORE( cerpen )

Sore ini langit telihat mendung, dengan ditemani segelas jus jeruk dan buku diary. Aku berdiam diri di kamarku. Aku mengingat ingat hari – hari yang telah kulalui. Ternyata banyak hal yang telah kulakukan dengan baik. Namun, hal buruk yang telah kulakukan pun tak kalah banyaknya, bahkan mungkin lebih banyak.
Aku sedang patah hati. Tahu kenapa? Ha ha ha bukan karena aku ditinggalkan kekasihku, tapi aku merasa bahwa aku ini payah.
“bruk!”
Buku fisika setebal hak sepatu itu aku lempar ke lantai kamrku yang minta ampun berantakannya.
“huh aku benci fisika, enggak satupun aku mengerti aku payah! Enggak bisa seperti Rio, anak itu pintar. Dia rajin,.
Huuuuuuh…… andai saja…..
Ah sudahlah”
Aku marah – marah sendiri seperti orang tak waras. Kadang aku suka merasa iri dengan temanku yang sangat tekun dalam belajar. Kenapa aku ini sulit jadi seperti mereka? Pernyataan itu tak pernah bisa ku jawab.
Saat ini aku benar – benar meniinggalkan PR fisikaku yang membuat kepala seakan mau pecah. Aku menikmati pemandangan asri yang terlihat dari jendela kamarku. Ya…. Halamanku yang penuh dengan bunga hasil karya sang pencipta. Mataku terpaku pada satu bunga nan merah merekah. Cantik sekali, ia terlihat sangat bahagia bermain bersama kupu – kupu yang tak henti mengelilinginya. Mereka sang bunga dan kupu – kupu seakan mengajakku bermain serta berbagi kebahagiaan. Jelas saja sang bunga sangat bahagia, ayahku selalu merawatnya dengan sabar. Ayah sangat memperhatikannya, ehhmmmm….. ternyata bukan hanya gadis sepertiku saja yang suka diperhatikannya dan sayangi dengan tulus.
Lepas dari sang bunga yang cantik, mataku tertuju pada abang bakso dan bapak penjual asinan yang sedang berbincang Air muka mereka menyiratkan kegalauan hati.
“mas,gimana baksonya? Laku banyak?” kata penjual asinan
“boro – boro Pak, balik modal saja sudah untung, saya sering nombok Pak” abang asinan terlihat muram.
“ya…. Sabar sajalah Mas, saya juga begitu, belakangan ini orang jarang jajan. Mungkin sama, pendapatan mereka juga pas – pasan hanya untuk makan dan sekolah”.
“mungkin….. tapi Pak, saya bingung. Anak saya mau ujian tahun ini,” abang bakso menumpahkan kegalauannya.
“Mas…… kita Cuma bisa berusahadan berdoa. Sabar saja. Jangan dibawa susah, nanti jadi nambah susah. Ha ha ha ha “ bapak tukang asinan berusaha menghibur walaupun sesungguhnya ia pun bingung.
“kasihan mereka,” ujarku pelan.
Kasihan mereka, bingung memikirkan cara tuk menyambung hidup besok. Aku merasa beruntung aku tak perlu memikirkan perut yang lapar. Aku juga bisa sekolah dan bermain dengan tenang.
Tidak lama kemudian, sepasang manusia. Adam dan hawa lewat tepat di depan rumahku. Wajah mereka terlihat tidak bahagia padahal seharusnya mereka baghagia karena bisa menghabiskan waktu bersama. Rupanya…..
“apa sih mau lo?” kata sang adam setengah membenttak, kasar!”
Aku ingin kamu tidak kasar padaku. Sayangi aku seperti yang kamu bilang,” jawab hawa lirih.
“Lo mau gue seperti apa?” Tanya adam gusar.
“ya hubungan yang sehat, jika kamu ingin aku jadi pacarmu, sayangi aku. Jika tidak, katakana tidak”.
Mereka pun terlalu, Ck Ck ck….. kasihan hawa,….. sepertinya ia begitu menyayangi dsang adam, tapi kenapa adam tak juaga mengerti? Huh…. Beruntungnya aku, adamkua tidak seperti adamnya. Adamku baik. Ia selalu mengingatkan aku dan menasihatiku. Ia begitu sabar menghadapi aku yang sedang dalam proses menjadi dewasa. Aku sungguh nyaman bersamanya. Memang terkadang ia menyampaikannya dengan agak “galak” dan sedikit keras kepala. Ya…. Itulah adamku. Unik aku suka…..tidak! bukan suka tapi sangat suka.
Adamku ini Julian namanya. Ia memberiku banyak pelajaran hidup yang berharga. Ia menuntunku untuk menghadapi segala persoalan hidup dengantegar dan tidak cengeng , dengan rasa sayangnya, ia membuatku tak segan mengukir senyum di setiap hariku. Itulah adamku. Hahahahaha….. sekali lagi aku merasa beruntung.
Lamunku di buyarkan oleh deringan ponselku. Nama aryo muncul di layar.
Ada apa ya aryo meneleponku sore- sore begini? Tanyaku pada diri sendiri dan segera menjawab ponselku.
“hai Yo….” Kataku riang,
“ hai ….apa kabar Tar?” Tanya Aryo.
“Baik, ada apa?” jawabku penuh Tanya.
“ begini, aku sekarang ada di hotel ABC di daerah senayan, kamu mau datang enggak? Yangh lain juga datang lhoooo…..!”
“emang ada acara apa Yo?” tanyaku semakin bingung.
“enggak ada apa – apa kok, aku lagi sebal saja, orang tuaku sibuk banget. Sudah seminggu mereka tidak pulang. Hanya uang nya saja yang pulang. Selain itu, kalaupun mereka di rumah, mereka rebut terus. Aku dan mas atas kesepian, jadi lebih baik di hotel, mengundang kalian ya, kan? Pokoknya aku tunggu ya Ta,bye….”
Klik! Telepon pun terputus, prihatin. Itu satu yang kurasakan . kasihan aryo , ayah dan ibunya membanjirinya dengan uang tapi mereka lupa member aryo kasih sayang yang sesungguhnya lebih dibutuhkan nya. Aku ingin sekali menemaninya. Namun sepertinya aku tak akan ke sana sore ini. Selain jauh, aku punya banyak tugas. Ehmmm….. aku rasa sekali lagi aku punya merasa beruntung. Oranng tua kiu memang sibuk tetapi mereka tak pernah lupa memberikan kasih sayang mereka kepadaku.
Hmmm….. ternyata lamunanku sore ini membuatku sadar betapa beruntungnya aku ini. Dan tak sepantasnya aku merasa I iri dengan temanku. Mereka juga punya kekurangan. Malah tidak sedikit dari mereka yang tidak sadar akan kekurangan dirinya. Jadi kalau kali ini aku sadar bahwa aku lemah dalam ketekunan belajar berarti sekali lagi aku beruntung, ya beruntung karena aku sadar akan kekuranganku. Ya, kan? Hahahahaha….. aku ini ada – ada saja, suka memikirkan yang tidak – tidak.
“mitaaaaaa!!”
Suara nyaring terdengar dari luar rumah memanggil namaku. Kutengokan kepalaku ke luar dan kudapati sosok manis Julian di sana. Ia terlihat begitu ceria.
“ada apa ya?” tanyaku dalam hati.
Ya tuhan! Oh No! aku lupa. Hari ini aku ada janji dengan jantung hatiku itu untuk belajar dan makan malam bersama.
Dengan segera aku melompat dan kursiku,,,merapikan sedikit rambutku kemudian berlari keluar untuk menemui Julian. Tapi tunggu! Ada yang aku lupa. Aku belum menyiapkan apapun untuk makan malam kami, alamak! Kali ini aku sama sekali tidak beruntung.

alin kecewa (cerpen)

Puber kedua! Pikiran itu terlintas begitu saja di benak Alin. Ya, pasti kalau bukan puber kedua, adakah dugaan lain yang lebih tepat? Gadis itu menggeleng sendiri. Tidak ada, jadi kesimpulan itu menjadi biulat: mamatengah mengalami puber kedua.
Alin mendesah kecewa. Mama yang selama ini dianggapnya sebagai ibu yang paling hebat, ternyata bukan tanpa cela. Bahkan tingkah mama ini lebih buruk dari ibu teman – temannya. Mama memang tidak suka ngerumpi, tidak sewenang – wenang memperlakukan anak, tidak kolot, tidak…….. tapi pengkhianat!!!. Adakah lebih buruk dari itu???. Mama tidak saja mengkhianati papa, tapi juga mengkhianati anak – anaknya!!!!.
“ kok melamun, Lin!”. Teguran tante Rina, mamanya Dista, mengagetkan Alin. Gadis itu buru – buru mengulas senyum. “bagaimana kabar mamamu?”,Tanya tante Rina,sembari duduk disebelah Alin. Saat ini dia tengah menunggu Dista dirumah teman sekolahnya itu. Alin ingin mencurahkan kegusaran dihatinya pada Dista. Namun kata mamanya, Dista sedang disuruh membeli lotion penolak nyamuk ditoko ujung jalan.
“hmmm…”, baik,tante,”saut Alin.
“masih sibuk dengan cateringnya??”
Kepala alin terangguk
“tante sangat salut dengan mamamu itu. Sejak dulu dia memang tak suka menganggur,” kenang tante Rina. Alin tahu tante Rina adalah teman sekolah mama dulu. Mama pernah bercerita. “papamu beruntung menikah dengannya,” lanjutnya.
Beruntung? Dada Alin hendak berontak. Mama memang wanita hebat. Bukan saja beliau mau mengelola uasha meski gaji papa lebih dari cukup. Bukan saja mampu membagi waktu untuk memperhatikan anak – anaknya. Namun juga mampu memainkan sandiwara dengan sempurna!.
Gelegak hati Alin dengan menggumpal
“ itu Dista,” tante Rina menunjuk Dista dengan isyarat”. Tante tinggal kedalam ya?”pamitnya setelah menerima lotion penolak nyamuk dari Dista. Alin mengangguk.
Dista langsung bisa merasai ada yang tidak beres begitu memandang muka keruh Alin. Dia tidak berceloteh dan bercanda. Sperti biasanya, melainkan memandang penuh sahabatnya itu.”ada apa?”, Tanya Dista sembari duduk ditempat yang ditinggalkan mamanya.
“mama….,” Alin berkata dengan mama yang nyaris tak mampu lagi dia tahan. Dista merelakan bahunya sebagai tempat alin menumpahkan emosinya. Membebiarkan gadis itu menangis dalam rengkuhannya. “mama pengkhianat….,!” ujar alin diselak isak tangisnya. Lalu meluncur lah cerita dari bibir Alin.
Awalnya Alin memakai HP mamanya yang tergeletak diatas meja untuk mengirim sms kepada indra ketua KIR, tanpa sepengathuan beliau. Ponsel Alin sendiri tengah kehabisan pulsa. Setelah laporan pesan terkirimnya dai hapus, terpampang sebuah romantis seperti pesan – pesan yang dulu sering terima dari adik, yang ternyata gombal belaka pesan romantis dari seseorang yang mama sebut sebagai “cinta!”
“ aku juga tak sabar melewati hari tanpamu”, sayang. inginnya meninggalkan semua rutinitas dan melewati seluruh hari bersamamu. “Aku sayang kamu”,
Begitu kurang lebih pesan yang terbaca. Alin sempat terhenyak tak percaya. Dan tanpa sepengathuan mamanya pula, gadis itu membuka sms yang lain, yang seisinya senada, bahkan ada beberapa yang vulgar.Alin membacanya dengan jijik.rasanya dia ingin membanting benda itu.
“Papamu sudah kau beritahu?”Tanya Dista.Alin menggeleng.
“Aku tak tahu bagaiman mengatakannya.Aku takut mereka bercerai.Aku tak ingin dihadapkan pada pilihan kehilangan salah satunya,”kata alin.Kepala dista terangguk mengerti
“apa yang harus kulakukan,dis?”Tanya Alin.pertanyaan yang sudah dista duga dan dia tak tau bagaiman menjawabnya.gadis itu sama sekali tak bisa membayangkan hal terbaik yang bisa dia lakukan jika mendapat hal serupa.
“bersikaplah wajar untuk sementara,mungkin.hingga kita bisa benar-benar memikirkannya secara jernih,”jawab Dista.”Kau bisa kan ,lin?”.
Alin menghela napas dalam.dadanya sedikit lega setelah membagin beban itu pada dista.dalam hati dia bersyukur masih memiliki seorang sahabat yang bisa menjadi tempatnya berkeluh.meski dia sedikit ragu bagaimana bisa bersikap wajar menghadapi kenyataaan ini.bagaimana dia bisa berpura-pura tak mengetahui apapun dihadapan mama.
“Jangan berandai yang bukan-bukan,Lin,”Kata Arul,Kakaknya yang kuliah dikota lain menghadapi pertanyaan”bagaiman seandainya yang ditanyakan alin ditelepon.”mama nggak mungkin mengkhianati kita,”tandasnya keyakinan yang membuat alin urung bercerita tentang pesan romantis di ponsel mama.
Beberapa hari ini alin memang menahan diri untuk tidak mengungkit soal itu dihadapan papa.juaga dihadapan mama.dia hanya mencoba menghindari kontak dengan wanita itu sedapat mungkin agar kegusarannya tidak tercium.
Juga masih mencuri baca pesan-pesan di HP mama dari pengirim berinisial cinta itu.seperti sekarang…..
“bagaiman kalau nanti siang kita ketemu di Café yang dulu?nostalgia.ingat café romantis diujung jalan dekat PDAM itu,kan?dulu kita sering rame-rame kesana bareng teman-teman sekelas”
Nostalgia.berarti kekasih gelap mama adalah seorang yang pernah mempunyai hubungan dengan wanita itu.seorang dari masa lalu mamanya mungkin mantan kekasih mama waktu masih muda.
Eureka!alin memperoleh ide untuk memergoki mereka dia langsung ketempat dista setelah membaca dan menyimpan nomor pengirimnya,
“rasanya aku tak sabar tak ingin menyumpah serapih kekasih gelap mama,dis”kata alin dengan kegeraman teramat.
“sebaiknya jangan lin,”cegah dista.”bagaimanapun,harga diri keluargamu menjadi taruhannya.”
“tapi laki-laki ini……..”
“dengan memergoki mereka saja,aku rasa mamamu akan menyadari kesalahannya.dan arul maupun papamu tak perlu tahu bahwa orang tercinta mereka pernah tergelincir ke jalan yang salah.”
“aku tak tahu apakah aku bisa memaafkannya……”
“aku tak mau m,enemanimu kecuali kau yakin bisa menguasai diri “sikukuh dista.alin menghembuskan nafas berat
Ditemani dista alin menguasai Café Romantis dari seberang jalan mereka berlindung pada almari display toko sekaligus warnet itu.
Mama lebih dulu sampai disana.mengenakan celana panjang dan kaus berkerah kerudungnya berwarna senada dengan pakaiannya.alin muak mendapati mama selayaknya gadis belasan tahun yang tengah jatuh cinta padahal sudah memiliki dua anak yang telah beranjak remaja.
Wanita itu duduk menghadapi sendirian.sesekali di tampak bercakap dengan pemilik Café.dada alin sudah berdegup kencang.dia membayangkan apa yang hendak dilakukannya nanti setelah kekasih gelap mama datang.
Beberapa menit berlalu tiba-tiba mama alin menangkap sesosok laki-laki yang teramat dikenalnya.papa.laki-laki itu baru saja turun dari mobil angkutan umum papa tidak membawa mobilnya.hampir saja alin berteriak memanggil papanya agar tidak melihat mama di Café itu.tapi terlambat.papa telah sampai diambang opintu Café.
Mungkinkah papa juga telah mengetahui perselingkuhan mama?dan seperti halnya alin,mungkin laki-laki itu tahu mama hendak bertemu kekasih gelapnya disana?dada alin bergetar.dicengkramnya dista dengan was-was.bagaimanapun,alin tak ingin melihatorang tua kekasihnya bertengkar ditempat umum.
Papa duduk di hadapan mama. Laki – laki itu sepertinya bisa mengontrol diri. Ah, papap memang selalu bijak menyikapi segala hal. Kearifan yang selalu ingin Alin tiru.
Mereka tampaknya tidak bertengkar. Alin tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun dia bisa melihat mereka tertawa bersama. Ataukah mereka tengah sama – sama melakoni sandiwara? Mama dengan aktingnya seolah tidak tengah menunggu siapaun di kafe itu, dan papa dengan kepura – puraannya seolah tah tahu pengkhiantan mama?.
Bagaimana kalau papa memeang tah tahu? Alin menelan ludah. Dia berpikir, andai saja ketika papa datang, laki – laki yang mama simpan nomornya dengan nama “cinta” itu telah datang. Mungkin aka nada pertengkaran. Tapi jika itu menjadi penyelesaian yang terbaik dari pada kepura-puraan?
Andai saja……
Jemari Alin membuka pouch dipinggangnya. HP yang telah dia isi pulsa hasil bongkar tabungannya itu dia keluarkan. Laki – laki kekasih gelap mama mungkin telah melihat papa hingga tak berani menampakkan muka.
Alin menghubungi nomor yang telah disimpannya. Menunggu teleponnya diangkat. Dia teramat ingin memaki perusak rumah tangga orang itu.
“Hallo…..”
Tersambung. Tapi suara itu…..
“ada apa Alin?” suara papa! Alin tak mengerti. Sedetik dia merasa mungkin salah memencet nomor. Sepasang matanya yang telah mengawasi kafe romantis mendapati papa tengah memegang HP di sisi kepalanya.
“papa?” suara Alin serak oleh cacimaki yang tertahan. “papa punya nomor baru?”
Iya, ada apa?”
Alin menggeleng tak mengerti. Dia tah tahu apakah harus kecewa ata bahagia. Alin hanya merasa teramat tak mengerti. Atau, oaring tua sering kali memang susah dimengerti?